Minggu, 12 November 2017

Cerita Pendek (Cinta Tak Harus Memiliki)

Cinta Tak Harus Memiliki
Karya : Try Annisa

        Hari ini kicauan burung sangat merdu, angin berhembus menusuk sukma ku, matahari menampakkan sinarnya dengan percaya diri. Hari ini rasanya aku ingin beristirahat dirumah dan menikmati segelas es teh manis. Namun, entah apa yang membawaku sampai ke taman tua ini. Taman yang memiliki banyak memori tentang dia. 

         Ketika ku dekati pohon tua yang ada ditaman itu, rindu ini kembali menyerang perasaan ku. Luka goresan nama yang ada dipohon itu semakin membuatku teringat akan dia. 

"Tarisa, sejauh apapun jarak memisahkan kita, aku dan kamu tetaplah menjadi sahabat" 

          Kata-kata itu teringat betul dipikiranku, ketika 10 tahun yang lalu Arkhi mengucapkan salam perpisahannya untuk ku, ketika Ia dan keluarganya akan pindah ke luar kota dan melanjutkan SMA nya di sana. Taman tua inilah yang menjadi saksi bisu perpisahan antara kami berdua. Di taman ini lah kami dulu sering bertemu, bercerita, dan tertawa bersama. Aku dan Arkhi sudah dari kecil bersahabat. Keluarga kami pun sudah sangat dekat. Setelah perpisahan itu, Arkhi tak pernah lagi menghubungi ku. Kami sudah lost kontak selama 10 tahun ini. 

        Walaupun sudah lama tak bertemu dan berkomunikasi, namun kenangan indah kami masih tersimpan jelas dibenakku. Dan aku tak akan pernah melupakannya. 
Sekarang entah bagaimana kabarnya, aku betul-betul merindukannya. Kursi taman ini kini hanya diduduki oleh ku seorang, berharap Ia datang dan duduk disamping ku. 

          Hari yang tadinya ceria, tiba-tiba saja menjadi sedih dan awanpun menurunkan air matanya. Aku langsung bergegas menuju pondok yang ada di pinggir taman itu untuk berteduh. Huh, bajuku basah terkena rintikan air hujan, sehingga aku merasakan kedinginan. Tiba-tiba ada sesosok laki-laki yang juga berteduh dipondok ini. Ketika kami berpaspasan, aku langsung mengenali laki-laki itu. Yaa Ia yang selama ini aku rindukan, entah bagaimana takdir mempertemukan kami disini. 
"Arkhi! Kamu Arkhi kan??" Tanya ku dan berharap Dia meng-iyakan pertanyaan ku. 
"Iyaa, aku Arkhi. Kamu Tarisa kan?" Jawabnya. 
"Iya aku Tarisa, Ya Allah gak nyangka kita bisa bertemu disini, kamu apa kabar Khi?" Tanya ku dengan gembira.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja Sa, owh ya aku sengaja kesini. Aku teringat dengan tempat ini. Tempat ini banyak memori nya ya Sa" jawabnya. 
"Iya Khi, entah kenapa hari ini aku juga teringat akan tempat ini. Eh gak taunya ketemu kamu. Btw kamu kapan kesini? Udah 10 tahun loh kamu gak kesini" tanya ku penasaran.
"Baru pagi tadi aku sampai kesini Sa, soalnya ada yang ingin aku sampaikan sama kamu dan keluargamu" ujar Arkhi. Perkataan Arkhi membuatku gede rasa. Jantung ku deg-degan. Aku penasaran sekali apa yang ingin dikatakan oleh Arkhi. Aku berharap Ia akan melamar ku bagaikan pangeran yang datang tiba-tiba menjemput kekasihnya.

          Setelah hujan berhenti, Akhirnya kami pulang kerumah ku. Arkhi di sambut oleh Ayah dan Ibu ku. Aku menyuguhkan segelas teh hangat untuk nya.
"Om, tante, apa kabar? Sudah lama kita tak bertemu ya.." tanya Arkhi kepada kedua orang tua ku. 
"Alhamdulilah, Om dan tante baik-baik saja. Bagaimana dengan orang tua mu?" Jawab Ayah. 
"Papa dan Mama juga baik-baik saja Om. Owh ya om, kedatangan saya kemari ingin memberi tahu sesuatu" ujar Arkhi yang membuatku semakin penasaran. 
"Oh iya silahkan" jawab Ayah ku.
"Jadi gini Om, tante, kedatangan saya kemari ingin memberikan surat undangan pernikahan saya, minggu depan saya akan menikah dengan pasangan pilihan saya, saya berharap Om, tante, dan juga Tarisa sahabatku akan memenuhi undangan ini" ujar Arkhi membuatku mematung mencerna apa yang baru saja Ia katakan. Aku seakan tak percaya, bagaimana bisa? Aku mengganggap Arkhi selama ini lebih dari persahabatan. Hati ku hancur berkeping-keping dan tak mampu untuk ku susun kembali. Air mata hampir saja meluap, namun tertahan oleh kelopak mata ku yang besar. 
"Alhamdulillah, selamat ya Nak. Akhirnya kamu menikah. Senang mendengarnya" ujar Ayahku memberikan selamat padanya. Aku pun hanya bisa tersenyum palsu padanya. 

         Ketika Ia sudah pulang. Aku langsung mengambil undangan itu dan menuju kamarku. Ku perhatikan undangan itu terlukis nama nya dengan kekasih nya. Ukiran nama diundangan ini lebih indah dibandingkan ukiran nama yang ada dipohon tua itu. Tanpa terasa, undangan itu basah terkena rintikan air mata ku yang sedari tadi turun cukup deras. Aku berusaha untuk tabah menerima semua ini.

          Hari ini adalah hari pernikahan Arkhi dan kekasihnya yang sekarang sudah menjadi istri sah nya. Aku pun menghadiri pesta pernikahan mereka. Terlihat senyum terukir dipipi Arkhi. Ia terlihat sangat bahagia didampingi istrinya di pelaminan.

         Sekarang aku baru sadar kami hanya lah sebatas sahabat dan tak lebih. Mungkin selama ini perasaan ku yang terlalu berlebihan. Sekarang aku sadar, tak selama nya Persahabatan itu berakhir cinta dan jikalau pun cinta, maka cinta itu tak harus memiliki..
Ku ucapkan selamat kepada Sahabatku. Semoga kau bahagia selalu.