Minggu, 15 Oktober 2017

Cerita Pendek Islami (Pelita Penerang Kehidupan)

                 Pelita Penerang Kehidupan
                       Karya : Try Annisa

"Mah, aku pergi dulu ya. Assalammualaikum" pamit ku kepada Mamah ketika hendak pergi. 
"Waalaikumsalam, hati-hati dijalan nak" jawab Mamah sambil melampaikan tangan nya. 

Sesampai nya aku di luar rumah. 
Ku tatap langit penuh bintang yang bertaburan seakan bermain mata kepada ku. Suara jangkirk yang bernyanyi merdu dan hembusan angin berdesir menusuk kulit ku. Lampu-lampu pelita mulai dinyalakan di depan rumah papan. Dengan niat yang tulus kaki ku mulai melangkah perlahan. Al-quran yang aku peluk menjadi pelita penerang jalan ku. Perlahan-lahan ku telusuri jalan yang gelap penuh dengan rimba hutan. Berharap segera sampai ketempat yang ku tuju. 
Setiap malam, ini lah yang aku lakukan. Berjalan sendirian ke tempat dimana semua anak-anak sebaya ku berkumpul untuk belajar Al-quran. Kami tinggal di Desa yang jauh dari kota. Disini tidak ada penerangan menggunkan listrik, yang hanya ada pelita-pelita kecil yang menerangi setiap bilik rumah. Kadang kala, terbesit di pikiran ku akan terjadi sesuatu dijalan. Bagaimana tidak? Tak seorang pun yang aku jumpai ketika berjalan menuju tempat belajar Al-quran, yang hanya ada suara-suara jangkrik yang bernyanyi, dan suara anjing yang sesekali menggonggong. kadang aku ketakutan, namun aku percaya, Allah akan menjaga ku selama jalan yang aku tempuh merupakan jalan yang benar untuk menggapai Ridho-Nya. 

Ketika sampai di tempat tujuan, baru lah hati ini lega. Dengan semangat aku mulai mengaji dan belajar ilmu agama bersama teman-teman ku. Berharap ilmu yang aku dapatkan malam ini bisa menjadi bekal untuk ku dewasa nanti. 
"Baiklah anak-anak pelajaran malam ini kita sudahi sampai disini dulu ya, semoga ilmu yang telah kita dapatkan hari ini bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, Wassalammualaikum wr.wb"  ujar Ustadz Ali ketika menutup pengajian. Aku dan teman-teman berlarian menuju teras dan kami pun pulang kerumah masing-masing dengan jalan yang berbeda pula. 
"Dadah Nur, hati-hati di jalan ya.. hiii banyak hantuu lohh di sana" ujar Yuni yang menakuti ku. 
Aku pun berlari ketakutan, berharap langkah ku cepat sampai kerumah, terkadang aku sering terjatuh karna tak sadar di depan ada batu, namun aku berusaha bangkit kembali dan tak memperdulikan luka yang ada di kaki ku. 

Sesampai nya dirumah, aku langsung mengucapkan salam dan mencium tangan Mamah dan Abah ku. 
"Nur, bagaimana pelajaran hari ini?" Tanya Abah kepada ku.
"Alhamdulillah Bah, sekarang Nur sudah mengaji Juz 25. Kata Ustadz Ali bacaan Al-quran Nur sudah baik" jawab ku sambil membentangkan tikar di kamar. 
"Bagus lah kalau begitu.. terus belajar ya. Jangan putus semangat. Semakin kita menuntut ilmu, maka semakin haus kita akan ilmu" ujar Abah menyemangati ku.
"Iya Abah, Nur akan terus belajar demi menggapai Ridho-Nya" jawab ku sambil merapikan Al-quran di lemari. 
"Nur, sekarang tidur ya, sudah malam. Besok tolong bantu Mamah membersihkan kebun. Soalnya Abah besok mau ke kota buat menjual hasil kebun kita" ujar Mamah. 
"Iya Mah" jawab ku.

Setiap libur aku memang terbiasa membantu Mamah dan Abah dikebun. Kadang pulang sekolah aku langsung ke kebun untuk membantu mereka. Dan besok Abah akan pergi ke kota untuk menjual hasil kebun kami. Biasa nya ketika Abah pulang dari kota, Ia selalu membawakan oleh-oleh seperti beras, gula, kopi, dan bahan sembako lainnya. 

Ketika hendak tidur, aku terbayang-bayang dengan perkataan Ustadz Ali tadi, Ia mengatakan ada 3 kunci kesuksesan, yang pertama, Man Jadda Wa Jada yang artinya, Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Yang kedua, Man Shobaro Zafiro yang artinya, Siapa yang bersabar akan beruntung. Dan yang ketiga, Man Saaro'Alaa Darbi Washola yang artinya, Siapa yang berjalan di jalur-Nya akan sampai.
Perkataan Ustadz Ali tadi bergema-gema di telinga ku. Aku terus mencerna kalimat-kalimat tersebut. Hingga aku terlelap dalam tidur ku. Dalam tidur, aku bermimpi bertemu seseorang pemuda. Ia mengatakan jika aku bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu atau menggapai sesuatu maka aku akan mendapatkan sesuatu tersebut. 
"Nur, Nur, bangun Nur, ayo solat subuh dulu sudah pagi loh" suara Mamah membangunkan ku dari alam bawah sadar ku. aku pun terbangun dan melaksanakan solat subuh.

Sekitar pukul 5.30 pagi, Abah sudah bersiap-siap untuk pergi kekota, ia meletakkan hasil kebun kami di keranjang yang telah ia letakkan di belakang sepeda ontel nya. Keranjang tersebut terlihat dipenuhi sayur-sayuran hasil kebun kami. Ayah pun berpamitan untuk berangkat ke kota. Dengan gagah, Abah menggayuh sepeda nya hingga tak terlihat lagi ditelan tebing. Aku dan Mamah langsung bersiap-siap ke kebun. Kami membawa kedi dan suyak (keranjang yang digendong dipunggung). Kami berjalan kaki menuju kebun. Sesampai dikebun, aku dan Mamah mulai membersihakan rumput-rumput liar. Sesekali kami berhenti bekerja untuk istirahat di pondok, aku membuatkan Mamah teh dan kami menyantap makanan yang telah Mamah masak di rumah tadi. 

Matahari mulai bersembunyi, suara jangkirik mulai terdengar. Aku dan Mamah pun bersiap-siap untuk pulang. Sesampainya kami di rumah, Mamah langsung membuatkan kopi untuk Abah yang sebentar lagi akan pulang. Namun, ketika magrib datang Abah tak kunjung pulang. Mamah mulai mengkhawatirkan Abah. Aku pun berusaha menenangkan Mamah. Tak lama kemudian, terlihat dari ujung tebing Abah menggayuhkan sepeda ontelnya. "Alhamdulillah, akhirnya Abah pulang" ujar Mamah dengan perasaan senang. Abah berkata kepada kami, ia pulang terlambat karna dagangannya belum laku terjual. Akan tetapi Mamah tetap menyemangati Abah. 

Setelah magrib, aku melakukan aktivitas ku seperti biasa, yaitu mengaji di rumah Ustadz Ali, tak lupa Al-quran ku bawa dan aku peluk. Aku berpamitan dengan Abah dan Mamah. Setiap malam, aku lewati jalan yang sama seperti biasa. Mungkin rumput-rumput di pinggir jalan pun sudah mengenali gesekan-gesekan sandal jepit ku. 

Sesampainya aku di rumah Ustadz Ali, teman-teman sudah berkumpul. Ustadz Ali mengumumkan sesuatu. Ia berkata, Jika di antara kami berhasil menghafal Al-quran minimal 1 juz, maka ia akan membawa kami belajar di Mesir dengan jalur beasiswa. Kami semua sangat bahagia mendengarnya. 
Sesampainya aku dirumah, aku langsung memberitahu Mamah dan Abah tentang apa yang baru saja disampaikan Ustadz Ali. Abah langsung mendukung ku. Ia terus menyemangati ku. Aku pun selalu ingat dengan kata-kata "Man Jadda Wa Jada". Setiap dinding kamar selalu ku tempeli dengan tulisan itu. Aku terus berusaha menghafal Al-quran dengan niat karna Allah. 

Setelah beberapa bulan, aku pun berhasil menghafal 1 juz. Aku langsung memberitahu Ustadz Ali. Aku sudah berharap penuh akan mendapatkan beasiswa ke Mesir. Namun takdir berkata lain, aku tidak mendapatkan beasiswa tersebut. Karna yang dimintai cuma 3 orang anak, dan mereka sudah hafal lebih dari 1 juz. Aku kecewa sekali. Aku pun pulang dengan perasaan yang sedih. Aku langsung memberitahu Abah, bahwa aku tidak mendapatkan beasiwa tersebut. Lalu Abah berkata kepada ku "Nur, Abah tau kamu telah berusaha, Abah tau kamu telah menerapakan ilmu Man Jadda Wa Jada. Tapi kamu lupa sesuatu Nur, yaitu 
Man Shobaro Zafiro yang artinya, Siapa yang bersabar akan beruntung. kamu harus bersabar menerima semua ini. Pasti ada jalan indah yang Allah rahasiakan dari mu. Jadi jangan menyerah dan tetap jadi orang yang sabar". Perkataan Abah terasa menampar batin ku. Abah benar, aku melupakan yang satu itu. 

Aku menjadi semangat lagi dalam menghafal Al-quran. Ku niatkan semua karna Allah. Dan aku ingin menaikkan derajat orang tua ku serta memberikan mahkota untuk kedua orang tua ku di akhirat nanti. 

Setelah setahun kemudian, aku telah menghafal lebih dari 10 juz. Aku langsung di tes Ustadz Ali tentang bacaan Al-quran ku. Dan Alhamdulillah, aku pun diterima sekolah di Mesir dengan jalur beasiswa. Benar kata Abah, pasti ada sesuatu indah yang Allah rahasiakan untuk ku. Setelah aku bersungguh-sungguh, aku harus menjadi orang yang sabar dalam menerima hasilnya.

Kini aku tumbuh menjadi gadis dewasa yang berhasil mengangkat derajat orang tua ku. Kami sekarang tak lagi tinggal di desa. Kami pindah ke Kota dan membuat beberapa rumah tahfiz di berbagai Desa. 
Aku senang ketika mengajar anak-anak untuk belajar mengaji. Dan tak lupa aku selalu menyampaikan apa yang telah aku terima saat kecil dulu. Yaitu 3 kunci kesuksesan. Aku berharap anak-anak yang aku ajari bisa menjadi anak-anak penghafal dan pencinta Al-quran. Karna Al-quran adalah Pelita Penerang Kehidupan. 

Jumat, 13 Oktober 2017

Cerita Pendek Islami (Syukron)

Syukron
Karya : Try Annisa
             "Allahuakbar Allahuakbar"
            Suara adzan magrib terdengar sampai ke telinga Abizar, laki-laki yang sekarang duduk di kelas 12 SMA. Abizar pun bersiap-siap untuk pergi kemasjid di dekat rumah nya untuk melaksanakan solat berjamaah. Abizar dikenal memang sangat rajin solat di masjid, ia juga memiliki paras yang tampan, dan prilaku yang baik.
            Ketika ia hendak pulang dari masjid, ia bertemu dengan perempuan sebaya dengan nya. Wanita itu berjalan kaki menelusuri gang kecil dimana Abizar pun sedang melewatinya. Wanita itu berjalan dengan pandangan kosong, rambutnya terlihat acak-acakan. merasa ada yang aneh dengan wanita itu, Abizar pun hendak memanggilnya. Namun tiba-tiba Dilan memanggil Abizar dari belakang.
"Assalammualaikum. Abizar!! Tunggu sebentar" panggil Dilan tergesa-gesa.
 Abizar pun menoleh kebelakang,
"Waalaikumsalam, ada apa Dil?" Jawab Abizar.
"pulang bareng boleh?" Tanya Dilan.
"Ya boleh lah Dil. yokk" jawab Abizar. 
Ketika Abizar hendak melihat kedepan, wanita yang ia lihat tadi sudah tidak ada.
           Abizar dan Dilan melanjutkan perjalanan pulangnya. Tak lama kemudian terdengar suara berisik para warga
"woi neng turun" "neng ingat Allah neng.. turunnn" teriak para warga.
Karna penasaran, Abizar dan Dilan bergegas menuju sumber suara. sumber suara itu berasal dari kerumunan warga yang berada di samping jembatan dan tepat disana ada wanita yang dijumpai Abizar tadi. wanita itu berdiri di atas pagar jembatan dengan niat ingin bunuh diri, tetapi terlihat keraguan diwajahnya untuk melompat. Melihat peristiwa tersebut, Abizar menyuruh Dilan untuk memanggil Ustadz Rahmat, yang merupakan guru mengaji mereka. Tak lama kemudian Ustadz Rahmat pun datang dan langsung menuju ke arah wanita itu dan berteriak 
"Astaughfirullah, nak turun nak, istighfar, ingat Allah nak, orang tua kamu pasti khawatir! cepat turunn!" seru Ustadz Rahmat.
Perkataan Ustadz Rahmat langsung disambut wanita tersebut dengan nada marah sambil menangis terisak 
"diam! Anda tau apa tentang saya?? hahh!!". 
Wanita itu makin menangis sejadi-jadinya. Tapi tak lama kemudian Ustadz Rahmat berhasil membujuk wanita itu untuk turun. Kemudian wanita itu dibawa ke rumah Ustadz Rahmat yaitu tempat mengaji Abizar dan teman-temannya. Disana ia disambut Ustadzah Aisyah, 
"Ya Allah, Abi,, ada apa dengan anak ini Bi?" Tanya Ustadzah Aisyah kepada Ustadz Rahmat. 
"Ini anak yamg dicerita Dilan tadi Mi" jawab Ustadz Rahmat.
"Ya udah Bi, suruh masuk aja. sini nak masuk, biar kita bercerita di dalam saja" sambut Ustadzah Aisyah hangat.
wanita itu pun mengikuti langkah Ustadzah Aisyah dan duduk di atas tikar tempat murid Ustadz Rahmat mengaji.
           Percakapan mereka pun dimulai.
"Nak, siapa nama mu? Dari mana kau ini?" Tanya Ustadzah Aisyah. 
Sambil menangis wanita itu menjawab "nama saya Nikita bu. Saya bukan berasal dari sini, rumah saya pun jauh dari sini".
"Lalu mengapa kau bisa sampai disini? Dan mengapa kau mencoba untuk bunuh diri? Apakah orang tua mu tak mencari mu?" Tanya Ustadzah penasaran.
 "apa saya harus menjawab semua pertanyaan ibu?? Saya rasa itu tidak perlu. Terima kasih sudah membawa saya kemari. Saya permisi" jawab Nikita dan hendak pergi.
Namun langkah nya terhenti ketika melihat Abizar yang berdiri di depan pintu.
"malam-malam begini tidak baik bagi wanita berpergian sendiri. Lebih baik kamu tinggal disini bersama Ustadzah Aisyah dan Ustadz Rahmat untuk sementara waktu, sambil menunggu matahari terbit" Saran Abizar kepada Nikita.
"Benar nak, lebih baik disini saja dulu, daripada terjadi sesuatu pada mu" lanjut Ustadz Rahmat.
"memang itu yang saya mau pak! Saya ingin mati saja! Buat apa saya hidup? Buat apaa? Asal bapak tau, saya ini baru dibohongi sama pacar saya! Hikkksss... dia penipu! Dia bilang dia mau membawa saya berwisata. Nyatanya?? Dia malah memukuli saya dan meninggalkan saya disini.. semangatt hidup saya sudah hilang pak! Saya takutt pulang kerumah.. Ayah saya pasti akan memarahi saya habis-habisan! Dan sekarang apa yang harus saya lakukan??" Jelas Nikita sambil menangis terisak.
Ustadzah Aisyah dan Ustadz Rahmat terkejut mendengar apa yang barusan dijelaskan oleh Nikita, termasuk yang ada diruangan tersebut Abizar dan Dilan.
"Astaughfirullah, kasihan sekali kamu nak. Lebih baik kamu disini dulu ya.. nanti besok kita bicarakan lagi. Lebih baik kamu istirahat saja dulu" tawar Ustadzah Aisyah kepada Nikita.
"Apa ibu mau menerima saya tinggal disini?" Tanya Nikita.
"Tentu nak, dengan senang hati" jawab Ustadzah Aisyah.
Nikita pun di bawa Ustadzah Aisyah ke kamar untuk istirahat. Sementara itu. Abizar dan Dilan berpamitan kepada Ustadz Rahmat untuk pulang.
           Keesokan harinya....
           Pagi-pagi sekali, Nikita dibangunkan oleh Ustadzah Aisyah untuk melaksanakan solat subuh.
"Nak, ayo bangun.. sudah subuh" bangun Ustadzah Aisyah. 
Nikita melihat Ustadzah Aisyah dengan mata yang setengah tertutup. 
Dengan nada lesu ia pun menjawab " hah? Solat subuh? Tapi buu saya masih ngantuk sekalii..". 
"Ini sudah pagi loh nak. Ayo solat, jangan ditunda-tunda" jawab Ustadzah Aisyah. 
"Tapi bu.. saya kurang tau bacaan solat, soalnya saya dirumah jarang diajarkan bacaan solat" jelas Nikita. 
"Nanti akan saya ajarkan. Yang penting kamu bangun dulu. Ikut kita solat" ajak Ustadzah sekali lagi. 
Nikita pun memaksakan diri untuk bangun dan berwudhu, lalu mengikuti Ustadzah Aisyah solat.
           Matahari mulai menampakkan sinarnya, para santri-santri berdatangan memenuhi tempat mengaji dirumah Ustadz Rahmat. Seperti biasa, ketika libur sekolah, anak-anak disini lebih banyak mengisi waktunya untuk belajar mengaji bersama Ustadz Rahmat, tak terkecuali Abizar dan Dilan. Mereka berdua juga ikut mengaji sekaligus membantu Ustadz Rahmat untuk mengajar anak-anak. Pengajian dimulai. Ustadzah Aisyah menyarankan supaya Nikita bergabung bersama mereka. akan tetapi Nikita menolak, karna ia tak terbiasa dengan suasana seperti itu. Berbeda 180o dari gaya hidupnya. Tetapi karna bosan, ia pun mencoba untuk bergabung bersama santri-santri yang ada disana. ketika ia sampai di sana. Semua mata tertuju pada Nikita. Santri-santri bertanya-tanya "siapa ya kakak itu?" Bisik-bisik para santri. Terlebih lagi penampilan Nikita yang tidak menggunakan hijab. Mendengar keributan itu, Abizar mencoba menenangkan para santri. 
"Adik-adik, jangan ribut ya. Sebelumnya Abang mau ngasih tau. Jadi kakak ini namanya Kak Nikita. Ia juga mau belajar disini bareng kita". Jelas Abizar kepada santri-santri. 
"Owhhh gituu, hayy kak Nikita" sapa para santri.
Nikita sedikit malu karna diperlakukan begitu.
"h-haa-yyy juga" balas Nikita sedikit malu.
Nikita melihat para santri yang sangat giat mengaji. Berbeda dengan dirinya, sewaktu kecil hari-harinya lebih banyak diisi dengan bermain, di ajak ke mall, dan hal-hal yang bersifat duniawi. 
             Setelah pengajian selesai, Ustadz Rahmat memanggil Nikita untuk berbincang-bincang.
"Nak, jadi langkah kamu selanjutnya bagaimana? Apa kamu ingin pulang? Orang tua mu pasti mencari-cari" Tanya Ustadz Rahmat.
"Pak, saya masih belum bisa pulang dalam keadaan seperti ini, lihat saja pipi saya masih memar akibat dipukul pacar saya" jawab Nikita.
"Lalu sekarang kamu ingin bagaimana Nak?" Tanya Ustadz Rahmat.
"Pak, jika bapak tidak keberatan, bolehkah saya tinggal disini untuk beberapa hari? Sampai saya siap untuk pulang, lagian orang tua saya taunya saya sedang liburan sama pacar saya" pinta Nikita.
"Tentu saja boleh Nak, kamu juga bisa belajar ilmu agama disini, saya akan ajarkan bacaan solat" sambung Ustadzah Aisyah sambil berjalan mendekati mereka.
Akhirnya Nikita memutuskan untuk tinggal bersama Ustadzah Aisyah dan Ustadz Rahmat untuk sementara waktu.
           Matahari mulai terbenam, Nikita duduk di kursi kayu yang beratapkan pohon beringin. Raut wajahnya nampak sedih. Kebetulan Abizar dan Dilan sedang lewat dan melihat Nikita duduk sendirian. Mereka pun menghampiri Nikita. 
"Assalammualaikum. Nikita kamu sedang apa disini? Kamu seperti sedang memikirkan sesuatu. Ayo ceritakan" sapa Abizar.
"Waalaikumsalam. Owh kalian.. hmm aku memang sedang memikirkan sesuatu, oh ya kalo boleh tau nama kalian berdua siapa ya? Soalnya kita belum pernah kenalan" tanya Nikita kepada Abizar dan Dilan. 
"Owhh iya lupa, nama saya Abizar, dan teman saya namanya Dilan" jawab Abizar sambil menyatukan kedua telapak tangan nya di depan dada.
"Oh ya Abizar, kalo boleh tau kamu sekarang kelas brapa?" Tanya Nikita
"Sekarang aku dan Dilan duduk dikelas 12. Kamu sendiri?
"Aku juga sekarang kelas 12. Berarti kita seumuran dong. Kebetulan sekali ya.." jawab Nikita.
"Owh ya jadi kamu sementara waktu tinggal bersama Ustadz Rahmat dan Ustadzah Aisyah ya?" Tanya Dilan
"Iya, soalnya aku masih takut pulang kerumah dalam keadaan begini. Untung mereka berdua mau menerima aku disini" jawab Nikita.
"Nikita, maaf ya bukan nya aku sok menasehati. Tapi keputusan kamu ingin bunuh diri semalam itu tidak lah baik, itu dosa besar loh Nikita" ungkap Abizar.
Dengan wajah merasa bersalah Nikita pun menjawab
"Aku tau itu salah, tapi aku bingung harus bagaimana. Aku seperti kehilangan akal dibuat oleh nya (pacar Nikita),  semangat hidup ku rasa nya sudah hilang". 
"Aku tau apa yang kamu rasakan, tapi aku mohon jangan lukai diri kamu sendiri ya.. soal pacar kamu, mending kamu lupain dia, pacaran juga tidak diperbolehkan dalam islam, karana pacaran salah satu jalan mendekati zina" jelas Abizar.
"Iya Abizar, aku akan coba melupakan dia. Terima kasih ya atas saran kamu" balas Nikita. "Iya Nikita, sama-sama.. sekarang kamu masuk ya. Sebentar lagi sudah mau magrib. Aku dan Dilan pulang dulu. Assalamualaikum" salam Abizar sambil melambaikan tangan. "Waalaikusalam" balas Nikita. 
Kata-kata Abizar tadi seperti memberi semangat baru dikehidupan Nikita.
Nikita pun menjalani hari-hari nya dengan belajar ilmu agama, mulai dari bacaan solat, hingga belajar mengaji bersama santri-santri. Sesekali ia mendapatkan motivasi dari Abizar. Abizar memang pandai ketika memberikan motivasi, apa lagi ditambah paras nya yang tampan itu.
            Sudah 1 minggu berlalu, Nikita merasakan rindu nya kepada kedua orang tuanya. Ia pun memutuskan untuk pulang kerumah. Nikita pun berpamitan dengan Ustadz Rahmat dan Ustadzah Aisyah. Tapi sebelum pergi Nikita mencari-cari Abizar, sosok yang selalu memberinya semangat selama seminggu ini.
"Abizar dimana ya ustadzah?" Tanya Nikita yang sekarang memanggil Ustadzah Aisyah dengan sebutan Ustadzah bukan Ibu lagi. 
"Nah itu Abizar datang" jawab Ustadzah sambil menujuk ke arah Abizar.
"Assalammualaikum semua" salam Abizar. 
"Waalaikumsalam, Abizar. aku mau pamit ya.. aku sudah rindu sama orang tua ku. Owh ya terima kasih atas nasehat-nasehat kamu selama ini.. aku akan berusaha untuk menjalani hidup dengan semangat baru" pamit Nikita kepada Abizar. 
"Iya Niki, sama-sama. Owh ya ini ada sesuatu untuk kamu, buka nya dibus aja ya" kata Abizar sambil menyodorkan sesuatu kepada Nikita. Nikita pun mengambilnya dengan senyum.
           Tak lama kemudian bus datang menjemput Nikita. Ia pun mengucapkan salam dan langsung menaiki bus. Bus berjalan menuju tempat dimana Nikita tinggal. Dalam perjalanan Nikita bergumam dalam hatinya. Ia merasa ada yang berbeda dalam dirinya selama seminggu ini. Ia mendapatkan semangat baru, dan pengalaman baru. Beberapa saat, Nikita teringat sesuatu yang diberi Abizar tadi. Ia pun segera membukanya. Dan isi didalam nya adalah selembar kain dengan ukuran 130x130cm berwarna biru muda.. ya isinya adalah sebuah hijab. Disana juga ada secarik kertas dengan tulisan
(Untuk Nikita. Pakailah hijab ini untuk menutup aurat mu, karna sudah menjadi kewajiban wantia muslimah untuk menutup aurat, dan tolong sampaikan salam ku untuk kedua orang tua mu).
Nikita langsung meneteskan air mata. Ia sangat menyesal karna selama ini telah lalai dalam urusan agama. Ia pun mencoba memakai hijab yang diberikan Abizar tadi di dalam bus. Ia bergumam.. "terima kasih Abizar. Kamu telah menyadarkan ku. Mulai sekarang aku akan menutup aurat ku.. ya Allah terima kasih engkau telah memberikan hidyah untuk ku melalui Abizar. Syukron katsiiran".