Syukron
Karya : Try Annisa
Karya : Try Annisa
"Allahuakbar Allahuakbar"
Suara adzan magrib terdengar sampai ke telinga Abizar, laki-laki yang sekarang duduk di kelas 12 SMA. Abizar pun bersiap-siap untuk pergi kemasjid di dekat rumah nya untuk melaksanakan solat berjamaah. Abizar dikenal memang sangat rajin solat di masjid, ia juga memiliki paras yang tampan, dan prilaku yang baik.
Ketika ia hendak pulang dari masjid, ia bertemu dengan perempuan sebaya dengan nya. Wanita itu berjalan kaki menelusuri gang kecil dimana Abizar pun sedang melewatinya. Wanita itu berjalan dengan pandangan kosong, rambutnya terlihat acak-acakan. merasa ada yang aneh dengan wanita itu, Abizar pun hendak memanggilnya. Namun tiba-tiba Dilan memanggil Abizar dari belakang.
Suara adzan magrib terdengar sampai ke telinga Abizar, laki-laki yang sekarang duduk di kelas 12 SMA. Abizar pun bersiap-siap untuk pergi kemasjid di dekat rumah nya untuk melaksanakan solat berjamaah. Abizar dikenal memang sangat rajin solat di masjid, ia juga memiliki paras yang tampan, dan prilaku yang baik.
Ketika ia hendak pulang dari masjid, ia bertemu dengan perempuan sebaya dengan nya. Wanita itu berjalan kaki menelusuri gang kecil dimana Abizar pun sedang melewatinya. Wanita itu berjalan dengan pandangan kosong, rambutnya terlihat acak-acakan. merasa ada yang aneh dengan wanita itu, Abizar pun hendak memanggilnya. Namun tiba-tiba Dilan memanggil Abizar dari belakang.
"Assalammualaikum. Abizar!! Tunggu sebentar" panggil Dilan tergesa-gesa.
Abizar pun menoleh kebelakang,
"Waalaikumsalam, ada apa Dil?" Jawab Abizar.
"pulang bareng boleh?" Tanya Dilan.
"Ya boleh lah Dil. yokk" jawab Abizar.
Ketika Abizar hendak melihat kedepan, wanita yang ia lihat tadi sudah tidak ada.
Abizar dan Dilan melanjutkan perjalanan pulangnya. Tak lama kemudian terdengar suara berisik para warga
"woi neng turun" "neng ingat Allah neng.. turunnn" teriak para warga.
Karna penasaran, Abizar dan Dilan bergegas menuju sumber suara. sumber suara itu berasal dari kerumunan warga yang berada di samping jembatan dan tepat disana ada wanita yang dijumpai Abizar tadi. wanita itu berdiri di atas pagar jembatan dengan niat ingin bunuh diri, tetapi terlihat keraguan diwajahnya untuk melompat. Melihat peristiwa tersebut, Abizar menyuruh Dilan untuk memanggil Ustadz Rahmat, yang merupakan guru mengaji mereka. Tak lama kemudian Ustadz Rahmat pun datang dan langsung menuju ke arah wanita itu dan berteriak
"Astaughfirullah, nak turun nak, istighfar, ingat Allah nak, orang tua kamu pasti khawatir! cepat turunn!" seru Ustadz Rahmat.
Perkataan Ustadz Rahmat langsung disambut wanita tersebut dengan nada marah sambil menangis terisak
"diam! Anda tau apa tentang saya?? hahh!!".
Wanita itu makin menangis sejadi-jadinya. Tapi tak lama kemudian Ustadz Rahmat berhasil membujuk wanita itu untuk turun. Kemudian wanita itu dibawa ke rumah Ustadz Rahmat yaitu tempat mengaji Abizar dan teman-temannya. Disana ia disambut Ustadzah Aisyah,
"Ya Allah, Abi,, ada apa dengan anak ini Bi?" Tanya Ustadzah Aisyah kepada Ustadz Rahmat.
"Ini anak yamg dicerita Dilan tadi Mi" jawab Ustadz Rahmat.
"Ya udah Bi, suruh masuk aja. sini nak masuk, biar kita bercerita di dalam saja" sambut Ustadzah Aisyah hangat.
wanita itu pun mengikuti langkah Ustadzah Aisyah dan duduk di atas tikar tempat murid Ustadz Rahmat mengaji.
Percakapan mereka pun dimulai.
"Nak, siapa nama mu? Dari mana kau ini?" Tanya Ustadzah Aisyah.
Sambil menangis wanita itu menjawab "nama saya Nikita bu. Saya bukan berasal dari sini, rumah saya pun jauh dari sini".
"Lalu mengapa kau bisa sampai disini? Dan mengapa kau mencoba untuk bunuh diri? Apakah orang tua mu tak mencari mu?" Tanya Ustadzah penasaran.
"apa saya harus menjawab semua pertanyaan ibu?? Saya rasa itu tidak perlu. Terima kasih sudah membawa saya kemari. Saya permisi" jawab Nikita dan hendak pergi.
Namun langkah nya terhenti ketika melihat Abizar yang berdiri di depan pintu.
"malam-malam begini tidak baik bagi wanita berpergian sendiri. Lebih baik kamu tinggal disini bersama Ustadzah Aisyah dan Ustadz Rahmat untuk sementara waktu, sambil menunggu matahari terbit" Saran Abizar kepada Nikita.
"Benar nak, lebih baik disini saja dulu, daripada terjadi sesuatu pada mu" lanjut Ustadz Rahmat.
"Benar nak, lebih baik disini saja dulu, daripada terjadi sesuatu pada mu" lanjut Ustadz Rahmat.
"memang itu yang saya mau pak! Saya ingin mati saja! Buat apa saya hidup? Buat apaa? Asal bapak tau, saya ini baru dibohongi sama pacar saya! Hikkksss... dia penipu! Dia bilang dia mau membawa saya berwisata. Nyatanya?? Dia malah memukuli saya dan meninggalkan saya disini.. semangatt hidup saya sudah hilang pak! Saya takutt pulang kerumah.. Ayah saya pasti akan memarahi saya habis-habisan! Dan sekarang apa yang harus saya lakukan??" Jelas Nikita sambil menangis terisak.
Ustadzah Aisyah dan Ustadz Rahmat terkejut mendengar apa yang barusan dijelaskan oleh Nikita, termasuk yang ada diruangan tersebut Abizar dan Dilan.
"Astaughfirullah, kasihan sekali kamu nak. Lebih baik kamu disini dulu ya.. nanti besok kita bicarakan lagi. Lebih baik kamu istirahat saja dulu" tawar Ustadzah Aisyah kepada Nikita.
"Apa ibu mau menerima saya tinggal disini?" Tanya Nikita.
"Tentu nak, dengan senang hati" jawab Ustadzah Aisyah.
"Apa ibu mau menerima saya tinggal disini?" Tanya Nikita.
"Tentu nak, dengan senang hati" jawab Ustadzah Aisyah.
Nikita pun di bawa Ustadzah Aisyah ke kamar untuk istirahat. Sementara itu. Abizar dan Dilan berpamitan kepada Ustadz Rahmat untuk pulang.
Keesokan harinya....
Pagi-pagi sekali, Nikita dibangunkan oleh Ustadzah Aisyah untuk melaksanakan solat subuh.
Pagi-pagi sekali, Nikita dibangunkan oleh Ustadzah Aisyah untuk melaksanakan solat subuh.
"Nak, ayo bangun.. sudah subuh" bangun Ustadzah Aisyah.
Nikita melihat Ustadzah Aisyah dengan mata yang setengah tertutup.
Dengan nada lesu ia pun menjawab " hah? Solat subuh? Tapi buu saya masih ngantuk sekalii..".
"Ini sudah pagi loh nak. Ayo solat, jangan ditunda-tunda" jawab Ustadzah Aisyah.
"Tapi bu.. saya kurang tau bacaan solat, soalnya saya dirumah jarang diajarkan bacaan solat" jelas Nikita.
"Nanti akan saya ajarkan. Yang penting kamu bangun dulu. Ikut kita solat" ajak Ustadzah sekali lagi.
Nikita pun memaksakan diri untuk bangun dan berwudhu, lalu mengikuti Ustadzah Aisyah solat.
Matahari mulai menampakkan sinarnya, para santri-santri berdatangan memenuhi tempat mengaji dirumah Ustadz Rahmat. Seperti biasa, ketika libur sekolah, anak-anak disini lebih banyak mengisi waktunya untuk belajar mengaji bersama Ustadz Rahmat, tak terkecuali Abizar dan Dilan. Mereka berdua juga ikut mengaji sekaligus membantu Ustadz Rahmat untuk mengajar anak-anak. Pengajian dimulai. Ustadzah Aisyah menyarankan supaya Nikita bergabung bersama mereka. akan tetapi Nikita menolak, karna ia tak terbiasa dengan suasana seperti itu. Berbeda 180o dari gaya hidupnya. Tetapi karna bosan, ia pun mencoba untuk bergabung bersama santri-santri yang ada disana. ketika ia sampai di sana. Semua mata tertuju pada Nikita. Santri-santri bertanya-tanya "siapa ya kakak itu?" Bisik-bisik para santri. Terlebih lagi penampilan Nikita yang tidak menggunakan hijab. Mendengar keributan itu, Abizar mencoba menenangkan para santri.
Matahari mulai menampakkan sinarnya, para santri-santri berdatangan memenuhi tempat mengaji dirumah Ustadz Rahmat. Seperti biasa, ketika libur sekolah, anak-anak disini lebih banyak mengisi waktunya untuk belajar mengaji bersama Ustadz Rahmat, tak terkecuali Abizar dan Dilan. Mereka berdua juga ikut mengaji sekaligus membantu Ustadz Rahmat untuk mengajar anak-anak. Pengajian dimulai. Ustadzah Aisyah menyarankan supaya Nikita bergabung bersama mereka. akan tetapi Nikita menolak, karna ia tak terbiasa dengan suasana seperti itu. Berbeda 180o dari gaya hidupnya. Tetapi karna bosan, ia pun mencoba untuk bergabung bersama santri-santri yang ada disana. ketika ia sampai di sana. Semua mata tertuju pada Nikita. Santri-santri bertanya-tanya "siapa ya kakak itu?" Bisik-bisik para santri. Terlebih lagi penampilan Nikita yang tidak menggunakan hijab. Mendengar keributan itu, Abizar mencoba menenangkan para santri.
"Adik-adik, jangan ribut ya. Sebelumnya Abang mau ngasih tau. Jadi kakak ini namanya Kak Nikita. Ia juga mau belajar disini bareng kita". Jelas Abizar kepada santri-santri.
"Owhhh gituu, hayy kak Nikita" sapa para santri.
Nikita sedikit malu karna diperlakukan begitu.
"h-haa-yyy juga" balas Nikita sedikit malu.
Nikita melihat para santri yang sangat giat mengaji. Berbeda dengan dirinya, sewaktu kecil hari-harinya lebih banyak diisi dengan bermain, di ajak ke mall, dan hal-hal yang bersifat duniawi.
Setelah pengajian selesai, Ustadz Rahmat memanggil Nikita untuk berbincang-bincang.
"Nak, jadi langkah kamu selanjutnya bagaimana? Apa kamu ingin pulang? Orang tua mu pasti mencari-cari" Tanya Ustadz Rahmat.
"Pak, saya masih belum bisa pulang dalam keadaan seperti ini, lihat saja pipi saya masih memar akibat dipukul pacar saya" jawab Nikita.
"Lalu sekarang kamu ingin bagaimana Nak?" Tanya Ustadz Rahmat.
"Pak, jika bapak tidak keberatan, bolehkah saya tinggal disini untuk beberapa hari? Sampai saya siap untuk pulang, lagian orang tua saya taunya saya sedang liburan sama pacar saya" pinta Nikita.
"Tentu saja boleh Nak, kamu juga bisa belajar ilmu agama disini, saya akan ajarkan bacaan solat" sambung Ustadzah Aisyah sambil berjalan mendekati mereka.
"Nak, jadi langkah kamu selanjutnya bagaimana? Apa kamu ingin pulang? Orang tua mu pasti mencari-cari" Tanya Ustadz Rahmat.
"Pak, saya masih belum bisa pulang dalam keadaan seperti ini, lihat saja pipi saya masih memar akibat dipukul pacar saya" jawab Nikita.
"Lalu sekarang kamu ingin bagaimana Nak?" Tanya Ustadz Rahmat.
"Pak, jika bapak tidak keberatan, bolehkah saya tinggal disini untuk beberapa hari? Sampai saya siap untuk pulang, lagian orang tua saya taunya saya sedang liburan sama pacar saya" pinta Nikita.
"Tentu saja boleh Nak, kamu juga bisa belajar ilmu agama disini, saya akan ajarkan bacaan solat" sambung Ustadzah Aisyah sambil berjalan mendekati mereka.
Akhirnya Nikita memutuskan untuk tinggal bersama Ustadzah Aisyah dan Ustadz Rahmat untuk sementara waktu.
Matahari mulai terbenam, Nikita duduk di kursi kayu yang beratapkan pohon beringin. Raut wajahnya nampak sedih. Kebetulan Abizar dan Dilan sedang lewat dan melihat Nikita duduk sendirian. Mereka pun menghampiri Nikita.
Matahari mulai terbenam, Nikita duduk di kursi kayu yang beratapkan pohon beringin. Raut wajahnya nampak sedih. Kebetulan Abizar dan Dilan sedang lewat dan melihat Nikita duduk sendirian. Mereka pun menghampiri Nikita.
"Assalammualaikum. Nikita kamu sedang apa disini? Kamu seperti sedang memikirkan sesuatu. Ayo ceritakan" sapa Abizar.
"Waalaikumsalam. Owh kalian.. hmm aku memang sedang memikirkan sesuatu, oh ya kalo boleh tau nama kalian berdua siapa ya? Soalnya kita belum pernah kenalan" tanya Nikita kepada Abizar dan Dilan.
"Owhh iya lupa, nama saya Abizar, dan teman saya namanya Dilan" jawab Abizar sambil menyatukan kedua telapak tangan nya di depan dada.
"Oh ya Abizar, kalo boleh tau kamu sekarang kelas brapa?" Tanya Nikita
"Sekarang aku dan Dilan duduk dikelas 12. Kamu sendiri?
"Aku juga sekarang kelas 12. Berarti kita seumuran dong. Kebetulan sekali ya.." jawab Nikita.
"Owh ya jadi kamu sementara waktu tinggal bersama Ustadz Rahmat dan Ustadzah Aisyah ya?" Tanya Dilan
"Iya, soalnya aku masih takut pulang kerumah dalam keadaan begini. Untung mereka berdua mau menerima aku disini" jawab Nikita.
"Nikita, maaf ya bukan nya aku sok menasehati. Tapi keputusan kamu ingin bunuh diri semalam itu tidak lah baik, itu dosa besar loh Nikita" ungkap Abizar.
Dengan wajah merasa bersalah Nikita pun menjawab
"Sekarang aku dan Dilan duduk dikelas 12. Kamu sendiri?
"Aku juga sekarang kelas 12. Berarti kita seumuran dong. Kebetulan sekali ya.." jawab Nikita.
"Owh ya jadi kamu sementara waktu tinggal bersama Ustadz Rahmat dan Ustadzah Aisyah ya?" Tanya Dilan
"Iya, soalnya aku masih takut pulang kerumah dalam keadaan begini. Untung mereka berdua mau menerima aku disini" jawab Nikita.
"Nikita, maaf ya bukan nya aku sok menasehati. Tapi keputusan kamu ingin bunuh diri semalam itu tidak lah baik, itu dosa besar loh Nikita" ungkap Abizar.
Dengan wajah merasa bersalah Nikita pun menjawab
"Aku tau itu salah, tapi aku bingung harus bagaimana. Aku seperti kehilangan akal dibuat oleh nya (pacar Nikita), semangat hidup ku rasa nya sudah hilang".
"Aku tau apa yang kamu rasakan, tapi aku mohon jangan lukai diri kamu sendiri ya.. soal pacar kamu, mending kamu lupain dia, pacaran juga tidak diperbolehkan dalam islam, karana pacaran salah satu jalan mendekati zina" jelas Abizar.
"Iya Abizar, aku akan coba melupakan dia. Terima kasih ya atas saran kamu" balas Nikita. "Iya Nikita, sama-sama.. sekarang kamu masuk ya. Sebentar lagi sudah mau magrib. Aku dan Dilan pulang dulu. Assalamualaikum" salam Abizar sambil melambaikan tangan. "Waalaikusalam" balas Nikita.
Kata-kata Abizar tadi seperti memberi semangat baru dikehidupan Nikita.
Nikita pun menjalani hari-hari nya dengan belajar ilmu agama, mulai dari bacaan solat, hingga belajar mengaji bersama santri-santri. Sesekali ia mendapatkan motivasi dari Abizar. Abizar memang pandai ketika memberikan motivasi, apa lagi ditambah paras nya yang tampan itu.
Nikita pun menjalani hari-hari nya dengan belajar ilmu agama, mulai dari bacaan solat, hingga belajar mengaji bersama santri-santri. Sesekali ia mendapatkan motivasi dari Abizar. Abizar memang pandai ketika memberikan motivasi, apa lagi ditambah paras nya yang tampan itu.
Sudah 1 minggu berlalu, Nikita merasakan rindu nya kepada kedua orang tuanya. Ia pun memutuskan untuk pulang kerumah. Nikita pun berpamitan dengan Ustadz Rahmat dan Ustadzah Aisyah. Tapi sebelum pergi Nikita mencari-cari Abizar, sosok yang selalu memberinya semangat selama seminggu ini.
"Abizar dimana ya ustadzah?" Tanya Nikita yang sekarang memanggil Ustadzah Aisyah dengan sebutan Ustadzah bukan Ibu lagi.
"Nah itu Abizar datang" jawab Ustadzah sambil menujuk ke arah Abizar.
"Assalammualaikum semua" salam Abizar.
"Assalammualaikum semua" salam Abizar.
"Waalaikumsalam, Abizar. aku mau pamit ya.. aku sudah rindu sama orang tua ku. Owh ya terima kasih atas nasehat-nasehat kamu selama ini.. aku akan berusaha untuk menjalani hidup dengan semangat baru" pamit Nikita kepada Abizar.
"Iya Niki, sama-sama. Owh ya ini ada sesuatu untuk kamu, buka nya dibus aja ya" kata Abizar sambil menyodorkan sesuatu kepada Nikita. Nikita pun mengambilnya dengan senyum.
Tak lama kemudian bus datang menjemput Nikita. Ia pun mengucapkan salam dan langsung menaiki bus. Bus berjalan menuju tempat dimana Nikita tinggal. Dalam perjalanan Nikita bergumam dalam hatinya. Ia merasa ada yang berbeda dalam dirinya selama seminggu ini. Ia mendapatkan semangat baru, dan pengalaman baru. Beberapa saat, Nikita teringat sesuatu yang diberi Abizar tadi. Ia pun segera membukanya. Dan isi didalam nya adalah selembar kain dengan ukuran 130x130cm berwarna biru muda.. ya isinya adalah sebuah hijab. Disana juga ada secarik kertas dengan tulisan
(Untuk Nikita. Pakailah hijab ini untuk menutup aurat mu, karna sudah menjadi kewajiban wantia muslimah untuk menutup aurat, dan tolong sampaikan salam ku untuk kedua orang tua mu).
Nikita langsung meneteskan air mata. Ia sangat menyesal karna selama ini telah lalai dalam urusan agama. Ia pun mencoba memakai hijab yang diberikan Abizar tadi di dalam bus. Ia bergumam.. "terima kasih Abizar. Kamu telah menyadarkan ku. Mulai sekarang aku akan menutup aurat ku.. ya Allah terima kasih engkau telah memberikan hidyah untuk ku melalui Abizar. Syukron katsiiran".
assalammualaikum,, alhamdulillah akhirnya selesai juga cerpen pertama di blog aku,, berawal dari iseng-iseng nulis cerpen di story WA, eh ada temen yang nyaranin nulis di blog dan akhirnya selesai juga,, ini semua cerita fiksi yaa,, syukron yaa udah mampir ke blog aku. see you all
BalasHapus