Pelita Penerang Kehidupan
Karya : Try Annisa
"Mah, aku pergi dulu ya. Assalammualaikum" pamit ku kepada Mamah ketika hendak pergi.
"Waalaikumsalam, hati-hati dijalan nak" jawab Mamah sambil melampaikan tangan nya.
Sesampai nya aku di luar rumah.
Ku tatap langit penuh bintang yang bertaburan seakan bermain mata kepada ku. Suara jangkirk yang bernyanyi merdu dan hembusan angin berdesir menusuk kulit ku. Lampu-lampu pelita mulai dinyalakan di depan rumah papan. Dengan niat yang tulus kaki ku mulai melangkah perlahan. Al-quran yang aku peluk menjadi pelita penerang jalan ku. Perlahan-lahan ku telusuri jalan yang gelap penuh dengan rimba hutan. Berharap segera sampai ketempat yang ku tuju.
Setiap malam, ini lah yang aku lakukan. Berjalan sendirian ke tempat dimana semua anak-anak sebaya ku berkumpul untuk belajar Al-quran. Kami tinggal di Desa yang jauh dari kota. Disini tidak ada penerangan menggunkan listrik, yang hanya ada pelita-pelita kecil yang menerangi setiap bilik rumah. Kadang kala, terbesit di pikiran ku akan terjadi sesuatu dijalan. Bagaimana tidak? Tak seorang pun yang aku jumpai ketika berjalan menuju tempat belajar Al-quran, yang hanya ada suara-suara jangkrik yang bernyanyi, dan suara anjing yang sesekali menggonggong. kadang aku ketakutan, namun aku percaya, Allah akan menjaga ku selama jalan yang aku tempuh merupakan jalan yang benar untuk menggapai Ridho-Nya.
Ketika sampai di tempat tujuan, baru lah hati ini lega. Dengan semangat aku mulai mengaji dan belajar ilmu agama bersama teman-teman ku. Berharap ilmu yang aku dapatkan malam ini bisa menjadi bekal untuk ku dewasa nanti.
"Baiklah anak-anak pelajaran malam ini kita sudahi sampai disini dulu ya, semoga ilmu yang telah kita dapatkan hari ini bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, Wassalammualaikum wr.wb" ujar Ustadz Ali ketika menutup pengajian. Aku dan teman-teman berlarian menuju teras dan kami pun pulang kerumah masing-masing dengan jalan yang berbeda pula.
"Dadah Nur, hati-hati di jalan ya.. hiii banyak hantuu lohh di sana" ujar Yuni yang menakuti ku.
Aku pun berlari ketakutan, berharap langkah ku cepat sampai kerumah, terkadang aku sering terjatuh karna tak sadar di depan ada batu, namun aku berusaha bangkit kembali dan tak memperdulikan luka yang ada di kaki ku.
Sesampai nya dirumah, aku langsung mengucapkan salam dan mencium tangan Mamah dan Abah ku.
"Nur, bagaimana pelajaran hari ini?" Tanya Abah kepada ku.
"Alhamdulillah Bah, sekarang Nur sudah mengaji Juz 25. Kata Ustadz Ali bacaan Al-quran Nur sudah baik" jawab ku sambil membentangkan tikar di kamar.
"Bagus lah kalau begitu.. terus belajar ya. Jangan putus semangat. Semakin kita menuntut ilmu, maka semakin haus kita akan ilmu" ujar Abah menyemangati ku.
"Iya Abah, Nur akan terus belajar demi menggapai Ridho-Nya" jawab ku sambil merapikan Al-quran di lemari.
"Nur, sekarang tidur ya, sudah malam. Besok tolong bantu Mamah membersihkan kebun. Soalnya Abah besok mau ke kota buat menjual hasil kebun kita" ujar Mamah.
"Iya Mah" jawab ku.
Setiap libur aku memang terbiasa membantu Mamah dan Abah dikebun. Kadang pulang sekolah aku langsung ke kebun untuk membantu mereka. Dan besok Abah akan pergi ke kota untuk menjual hasil kebun kami. Biasa nya ketika Abah pulang dari kota, Ia selalu membawakan oleh-oleh seperti beras, gula, kopi, dan bahan sembako lainnya.
Ketika hendak tidur, aku terbayang-bayang dengan perkataan Ustadz Ali tadi, Ia mengatakan ada 3 kunci kesuksesan, yang pertama, Man Jadda Wa Jada yang artinya, Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Yang kedua, Man Shobaro Zafiro yang artinya, Siapa yang bersabar akan beruntung. Dan yang ketiga, Man Saaro'Alaa Darbi Washola yang artinya, Siapa yang berjalan di jalur-Nya akan sampai.
Perkataan Ustadz Ali tadi bergema-gema di telinga ku. Aku terus mencerna kalimat-kalimat tersebut. Hingga aku terlelap dalam tidur ku. Dalam tidur, aku bermimpi bertemu seseorang pemuda. Ia mengatakan jika aku bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu atau menggapai sesuatu maka aku akan mendapatkan sesuatu tersebut.
"Nur, Nur, bangun Nur, ayo solat subuh dulu sudah pagi loh" suara Mamah membangunkan ku dari alam bawah sadar ku. aku pun terbangun dan melaksanakan solat subuh.
Sekitar pukul 5.30 pagi, Abah sudah bersiap-siap untuk pergi kekota, ia meletakkan hasil kebun kami di keranjang yang telah ia letakkan di belakang sepeda ontel nya. Keranjang tersebut terlihat dipenuhi sayur-sayuran hasil kebun kami. Ayah pun berpamitan untuk berangkat ke kota. Dengan gagah, Abah menggayuh sepeda nya hingga tak terlihat lagi ditelan tebing. Aku dan Mamah langsung bersiap-siap ke kebun. Kami membawa kedi dan suyak (keranjang yang digendong dipunggung). Kami berjalan kaki menuju kebun. Sesampai dikebun, aku dan Mamah mulai membersihakan rumput-rumput liar. Sesekali kami berhenti bekerja untuk istirahat di pondok, aku membuatkan Mamah teh dan kami menyantap makanan yang telah Mamah masak di rumah tadi.
Matahari mulai bersembunyi, suara jangkirik mulai terdengar. Aku dan Mamah pun bersiap-siap untuk pulang. Sesampainya kami di rumah, Mamah langsung membuatkan kopi untuk Abah yang sebentar lagi akan pulang. Namun, ketika magrib datang Abah tak kunjung pulang. Mamah mulai mengkhawatirkan Abah. Aku pun berusaha menenangkan Mamah. Tak lama kemudian, terlihat dari ujung tebing Abah menggayuhkan sepeda ontelnya. "Alhamdulillah, akhirnya Abah pulang" ujar Mamah dengan perasaan senang. Abah berkata kepada kami, ia pulang terlambat karna dagangannya belum laku terjual. Akan tetapi Mamah tetap menyemangati Abah.
Setelah magrib, aku melakukan aktivitas ku seperti biasa, yaitu mengaji di rumah Ustadz Ali, tak lupa Al-quran ku bawa dan aku peluk. Aku berpamitan dengan Abah dan Mamah. Setiap malam, aku lewati jalan yang sama seperti biasa. Mungkin rumput-rumput di pinggir jalan pun sudah mengenali gesekan-gesekan sandal jepit ku.
Sesampainya aku di rumah Ustadz Ali, teman-teman sudah berkumpul. Ustadz Ali mengumumkan sesuatu. Ia berkata, Jika di antara kami berhasil menghafal Al-quran minimal 1 juz, maka ia akan membawa kami belajar di Mesir dengan jalur beasiswa. Kami semua sangat bahagia mendengarnya.
Sesampainya aku dirumah, aku langsung memberitahu Mamah dan Abah tentang apa yang baru saja disampaikan Ustadz Ali. Abah langsung mendukung ku. Ia terus menyemangati ku. Aku pun selalu ingat dengan kata-kata "Man Jadda Wa Jada". Setiap dinding kamar selalu ku tempeli dengan tulisan itu. Aku terus berusaha menghafal Al-quran dengan niat karna Allah.
Setelah beberapa bulan, aku pun berhasil menghafal 1 juz. Aku langsung memberitahu Ustadz Ali. Aku sudah berharap penuh akan mendapatkan beasiswa ke Mesir. Namun takdir berkata lain, aku tidak mendapatkan beasiswa tersebut. Karna yang dimintai cuma 3 orang anak, dan mereka sudah hafal lebih dari 1 juz. Aku kecewa sekali. Aku pun pulang dengan perasaan yang sedih. Aku langsung memberitahu Abah, bahwa aku tidak mendapatkan beasiwa tersebut. Lalu Abah berkata kepada ku "Nur, Abah tau kamu telah berusaha, Abah tau kamu telah menerapakan ilmu Man Jadda Wa Jada. Tapi kamu lupa sesuatu Nur, yaitu
Man Shobaro Zafiro yang artinya, Siapa yang bersabar akan beruntung. kamu harus bersabar menerima semua ini. Pasti ada jalan indah yang Allah rahasiakan dari mu. Jadi jangan menyerah dan tetap jadi orang yang sabar". Perkataan Abah terasa menampar batin ku. Abah benar, aku melupakan yang satu itu.
Aku menjadi semangat lagi dalam menghafal Al-quran. Ku niatkan semua karna Allah. Dan aku ingin menaikkan derajat orang tua ku serta memberikan mahkota untuk kedua orang tua ku di akhirat nanti.
Setelah setahun kemudian, aku telah menghafal lebih dari 10 juz. Aku langsung di tes Ustadz Ali tentang bacaan Al-quran ku. Dan Alhamdulillah, aku pun diterima sekolah di Mesir dengan jalur beasiswa. Benar kata Abah, pasti ada sesuatu indah yang Allah rahasiakan untuk ku. Setelah aku bersungguh-sungguh, aku harus menjadi orang yang sabar dalam menerima hasilnya.
Kini aku tumbuh menjadi gadis dewasa yang berhasil mengangkat derajat orang tua ku. Kami sekarang tak lagi tinggal di desa. Kami pindah ke Kota dan membuat beberapa rumah tahfiz di berbagai Desa.
Aku senang ketika mengajar anak-anak untuk belajar mengaji. Dan tak lupa aku selalu menyampaikan apa yang telah aku terima saat kecil dulu. Yaitu 3 kunci kesuksesan. Aku berharap anak-anak yang aku ajari bisa menjadi anak-anak penghafal dan pencinta Al-quran. Karna Al-quran adalah Pelita Penerang Kehidupan.
Alhamdulillah, akhirnya cerpen kedua finish :). Semoga bisa memotivasi saya dan pembaca. Jika ada kesalahan atau kesamaan tokoh dicerpen ini mohon dimaafkan ya. Karna cerpen ini jauh dari kata sempurna. Bila ada kritik dan saran silahkan komentar dibawah ini. Terima kasih sudah mampir.. see you all.
BalasHapus